Pengaruh Variasi Jenis Perekat terhadap Kualitas Biobriket Berbahan Serabut dan Tandan Buah Lontar (Borassus flabellifer L.)

Irvan Adhin Cholilie, Larinda Zuari

Abstract

Bahan utama biobriket dan jenis bahan perekat sangat menentukan kualitas biobriket. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh  jenis perekat terhadap kualitas biobriket. Bahan yang digunakan untuk membuat biobriket yaitu serabut dan tandan buah lontar, dengan jenis perekat tepung tapioka, tepung sagu dan tepung maizena. Dilakukan analisis pada biobriket yang menggunakan tiga jenis perekat tersebut. Penelitian ini menggunakan beberapa     pengujian, diantaranya nilai kalor, kadar air, kadar abu, volatile matter, fixed carbon dan laju pembakaran. Penelitian menggunakan metode rancangan acak lengkap, dengan 3 perlakuan dan 3 ulangan. Tepung tapioka menghasilkan kadar air tertinggi 6.6 % dan kadar zat terbang terendah 22.17 %, tepung sagu memiliki kadar abu dan nilai kalor tertinggi yaitu 29.33 % dan 5015.98 kal/gram. Tepung maizena mempunyai kadar air dan kadar abu terendah yaitu 3.5 % dan 27.33 %. Tepung maizena mempunyai kadar zat terbang dan kadar karbon tertinggi yaitu 24,99% dan 44,18%, serta tepung maizena mempunyai nyala api lebih mudah menyala selama 292 detik serta memiliki waktu paling lama yaitu 0,147 gram/menit.

Keywords

biobriket; nilai kalor; perekat; proksimat; lontar

Full Text:

PDF

References

Apriyanti, D. (2016). Analisa Kualitas Biobriket Ampas Tebu-Tempurung Kelapa Ditinjau Kadar Perekat. Politeknik Negeri Sriwijaya.

Billah, M. (2009). Bahan Bakar Alternatif Padat (BBAP) Serbuk Gergaji Kayu. UPN Press.

Chumsang, C. D. (2014). Production of Charcoal Briquettes from Palmyra Palm Waste in Kirimat District Sukhothai Province, Thailand. App. Envi. Res., 36(3), 29–38.

Dahlan, D. N. (2011). Evaluasi Potensi Limbah Sabut Lontar Terfermentasi EM-4 sebagai Pakan Sapi Pedaging secara In-Vitro. Skripsi. UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang.

Djafaar, R. P. (2016). Pengaruh Temperatur terhadap Karakteristik Briket Bioarang dari Campuran Sampah Kebun dan Kulit Kacang Tanah dengan Tambahan Minyak Jelantah.Skripsi. Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.

Ismayana, A., & Afriyanto, M. R. (2011). Pengaruh jenis dan kadar bahan perekat pada pembuatan briket blotong sebagai bahan bakar alternatif. Jurnal Teknologi Pertanian, 12(3), 186-193.

Jahiding, M., Hasan, E., & Gangganora, A. (2014). Pengaruh Jenis dan Komposisi Perekat terhadap Kualitas Briket Batubara Muda. Jurnal Aplikasi Fisika, 4(2), 95–105.

Karim, M. A., Ariyanto, E., & Firmansyah, A. (2015). Studi Biobriket Eceng Gondok (Eichornia crassipes) sebagai Bahan Bakar Energi Terbarukan. Prosiding Seminar Nasional Teknik Kimia"Kejuangan" Pengembangan Teknologi Kimia Untuk Pengolahan Sumber Daya Alam Indonesia, 1–6.

Ningsih, E. M., Wulandari, Y., Himawan, H. S., & Indriani, H. M. (2016). Pengaruh Jenis Perekat pada Briket dari Kulit Buah Bintaro terhadap Waktu Bakar. Prosiding Seminar Nasional Teknik Kimia “Kejuangan” Pengembangan Teknologi Kimia Untuk Pengolahan Sumber Daya Alam Indonesia.

Purnama, R. R. (2012). Pemanfaatan Limbah Cair CPO sebagai Perekat pada Pembuatan Briket dari Arang Tandan Kosong Kelapa Sawit. Jurnal Teknik Kimia, 18(3), 159–168.

Sinurat, E. (2011). Studi Pemanfaatan Briket Kulit Jambu Mete dan Tongkol Jagung sebagai Bahan Bakar Alternatif. Skripsi. Universitas Hasanuddin, Makassar.

Triono, A. (2006). Karakteristik Briket Arang dari Campuran Serbuk Gergajian Kayu Afrika (Maesopsis eminii Engl.) dan Sengon (Paraserianthes falcataria L. Nielsen) dengan Penambahan Tempurung Kelapa (Cocos nucifera L.). IPB Press.

Wijayanti, D. S. (2009). Karakteristik Briket Arang dari Serbuk Gergaji dengan Penambahan Arang Cangkang Kelapa Sawit. Jurnal Teknik Pertanian.

Yuliah, Y. S. (2017). Penentuan Kadar Air Hilang dan Volatile Matter pada Biobriket dari Campuran Arang Sekam Padi dan Batok Kelapa. Jurnal Ilmu Dan Inovasi Fisika, 1(1), 51–57.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.